Sabtu, 30 Juli 2016

Skeptis Masa Lalu Kajian Ilmiah Kang Cepot

When we are talking about past time and future we’ve knew that is very complicated things right? Ah ngomong apaan sih? Ya saya cuma pengen share aja tentang apa yg saya alami tapi, hal yang saya share bukan hal memdetail melainkan merupakan hal yang umum saja. Heheheheh
Yu kita mulai dengan kegagalan di masa lalu, seringkali kita terikat oleh kenangan pahit yang terkadang tidak ingin kita ingat anda semua tau kan? Hal tersebut bisa apa saja entah itu karir, hubungan, atau bahkan mungkin pendidikan. Setiap manusia diberi pelajaran yang sangat berharga melalui kegagalan, dari hal tersebut kita belajar bagaimana menghadapi hidup yg bisa dibilang tidak sesimpel apa yg kita bayangkan waktu kecil. Ketika waktu kecil anda sering ditanya “nak, apa cita-cita kamu?” Sedikit menggilitik kita cuma diajari bercita-cita tanpa diajari bagaimana mendapatkan cita-cita tersebut, hanya sedikit orang tua yang menengerti hal ini. Yu ah skip dulu masalah parenting-nya karena kita tidak membahas masalah parenting, setelah menyadari apa yang kita pilih pada saat kecil selalu bayang-bayang mudah menghantui kita secara kasarnya kita menganggap enteng segala permasalahan. Akhirnya kegagalan demi kegagalan yang kita dapatkan, selalu kita mencari “jalan pintas” padahal hal tersebut akan tidak terpuji sama sekali. Memang kita tidak bisa menutup mata, banyak hal-hal di lingkungan kita sangat jauh sekali berjauhan dengan moralitas, ehh ngelantur lagi. Hahaha
Memperbaiki diri adalah jalan yg paling ideal menurut saya, dengan melihat diri kita di masa lalu kita dapat memahami apa yang menjadi kelemahan kita, kekurangan kita, dan kelebihan kita. Maka ketika menyadari hal ini kita dapat memprediksi masa depan kita sendiri seperti apa yg telah di katakan oleh Ir. Seokarno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”, yah memang sejarah mengenai hidup kita sendiri memberi arti pada kehidupan kita dan akan berguna untuk masa depan kita. Selalu ingat bahwa segala sesuatu juga diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa atau saya biasanya menyebutnya Allah SWT. Saya teringat akan ucapan seorang Pendeta bahwa makhluk hidup itu dikuasai oleh tiga hal yaitu WEM (Will, Emotion, Motivation) tetapi manusia punya satu hal yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain yaitu cahaya atau Nur dalam bahasa arab, kemudian saya ambil kesimpulan bahwa hal tersebut adalah “devine” hal bersipat spirit atau ketuhanan. Dengan cahaya tersebut kita akan menjadi terang tidak takut menjalani apapun karena ada cahaya dalam hati kita yang akan menerangi jalan kita melangkah.
Jika ada yang bertanya agama saya apa? Saya akan jawab saya “muslim” ya saya memilih jalan sebagai seorang muslim yg moderat yang mengguanakan pikirannya dari pada “ototnya” atau biasa disebut teroris. Aduh ngelantur lagi, maaf ini tulisan pertama saya soalnya, kembali lagi ke pokok pikiran utama yaitu bahwa masa lalu adalah salah satu cahaya untuk masa depan, dengan cahaya tersebut kita dapat membuat keputusan sebijak mungkin. Terima kasih sudah membaca tulisan saya semoga membantu 

gak nyambung kan??? EMANG ^_^